Sunday, 13 October 2019

Artikel kesehatan penyakit usus buntu

Penyakit Usus Buntu
      Penyakit usus buntu atau dalam bahasa medis dikenal dengan apendisitis adalah kondisi ketika apendiks atau sebuah kantung yang merupakan bagian dari usus besar yang terletak di sisi kanan bawah perut mengalami peradangan. Peradangan yang terjadi pada usus buntu atau apendiks. Usus buntu merupakan organ berbentuk kantong kecil dan tipis, berukuran sepanjang 5 hingga 10 cm yang terhubung pada usus besar. Saat menderita radang usus buntu, penderita dapat merasa nyeri di perut kanan bagian bawah. Jika dibiarkan, infeksi dapat menjadi serius dan menyebabkan usus buntuh pecah, sehingga menimbukan keluhan rasa nyeri hebat hingga membahayakan nyawa penderitanya. Radang usus buntu dapat terjadi pada semua usia, namun paling sering pada usia 10 sampai 30 tahun. Penyakit usus buntu bisa disebabkan sumbatan pada usus buntu, baik sebagian atau total. Hambatan usus buntu yang menyeluruh merupakan kondisi darurat dan perlu segera ditangani dengan tindakan operasi.
Fungsi dari usus buntu sendiri belum diketahui secara pasti, pun setelah terjadinya pengangkatan dari usus buntu itu sendiri tak ada imbas besar pada situasi kesehatan seseorang. Gejala usus buntu ini sangat penting untuk diketahui, seandainya bagian usus buntu mengalami peradangan dan juga pembengkakan, maka akan menyebabkan penyakit usus buntu atau lebih diketahui dengan istilah apendisitis yang menyebabkan tingkat komplikasi yang cukup serius dan juga membahayakan tubuh.

Cara Mengenali Gejala Penyakit Usus Buntu

Secara umum, gejala penyakit usus buntu yang paling  awal adalah sakit perut. Sehingga terkadang orang tidak menyadari bahwa usu buntunya telah terganggu. Rasa sakit ini berawal di bagian perut tengah, kemudian setelah beberapa jam, rasa sakit akan berpindah hingga ke perut bagian kanan bawah.
Di sinilah usus buntu berada. Setelah itu rasa sakit akan terus bertambah dengan eskalasi yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Selain itu, gejala berikut ini juga menyertai penderita penyakit usus buntu, yaitu:
Pembengkakan di perut:
Ciri-ciri ini muncul ketika usus buntu telah mengalami peradangan. Rasa nyeri dan perih juga akan menyertai gejala ini.
Mual dan muntah:
Saat terjadi apendisitis, maka secara langsung penceraan akan terganggu. Hasilnya sekresi akan sulit terbuang sempurna. Jadi, rasa mual dan muntah berkali-kali kerap dialami penderitanya.
Demam:
Bila mengalami gejala penyakit usus buntu, badan akan mengalami demam tapi suhunya tidak setinggi demam pada penyakit demam berdarah. Jadi, demamnya tergolong ringan. Gejalanya seperti meriang biasa.
Diare dan hilang nafsu makan:
Gejala yang bisa dilihat selanjutnya adalah mengalami diare atau mencret. Feses yang seharusnya keluar secara normal, tapi ternyata daam bentuk cair dan volume sedikit. Pada saat yang sama, nafsu makan menghilang karena perut terasa tidak nyaman. Sebaikya makan makanan yang teksturnya lunak agar gizi tetap masuk.
Sulit buang angin:
Umumnya jika mengalami sakit usus buntu, biasanya akan kesulitan buang angin. Ini karena saluran usus buntu mengalami pembengkakan, akibatnya terjadi penyumbatan di area tersebut.
Gejala-gejala di atas adalah gejala yang umumnya muncul dan dikeluhkan penderita usus buntu. Beberapa ciri yang muncul tersebut juga bisa dialami oleh penderita penyakit lain seperti tifus, demam berdarah, dan lainnya. Oleh sebab itu, diagnosa dokter sangat diperlukan untuk memastikan apakah gejala tersebut memang disebabkan oleh penyakit usus buntu atau merupakan gejala umum dari jenis penyakit lainnya.

Penyebab Penyakit Usus Buntu

Penyakit usus buntu terjadi karena rongga usus buntu mengalami infeksi. Dalam kondisi ini, bakteri berkembang biak dengan cepat sehingga membuat usus buntu meradang, bengkak, hingga bernanah. Banyak faktor yang diduga membuat seseorang mengalami radang usus buntu, di antaranya:
·        Hambatan pada pintu rongga usus buntu
·        Penebalan atau pembengkakan jaringan dinding usus buntu karena infeksi di saluran pencernaan atau di bagian tubuh lainnya
·        Tinja atau pertumbuhan parasit yang menyumbat rongga usus buntu
·        Cedera pada perut.
·        Kondisi medis, seperti tumor pada perut atau inflammatory bowel disease.
Kendati demikian, penyebab penyakit usus buntu tetap belum dapat dipastikan.

Diagnosis Penyakit Usus Buntu

Diagnosis penyakit usus buntu dimulai setelah dokter menanyakan gejala yang dialami pasien dan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk menilai rasa nyeri, dan dilakukan dengan menekan area yang terasa nyeri. Radang usus buntu ditandai oleh rasa nyeri yang semakin parah setelah tekanan tersebut dilepas dengan cepat.
Guna memastikan diagnosis, dokter perlu melakukan sejumlah tes. Tes yang dilakukan berupa:
·        Tes darah, guna memeriksa jumlah sel darah putih yang menandakan adanya infeksi.
·        Tes urine, untuk menghapus kemungkinan adanya penyakit lain, misalnya infeksi saluran kemih atau batu ginjal.
·        CT scan atau USG, untuk memastikan rasa nyeri pada perut disebabkan penyakit usus buntu.
·        Pemeriksaan panggul, untuk memastikan rasa nyeri bukan disebabkan masalah reproduksi atau infeksi panggul lainnya.
·        Tes kehamilan, guna memastikan rasa nyeri tersebut bukan disebabkan kehamilan ektopik.
·        Foto Rontgen dada, untuk memastikan rasa nyeri bukan disebabkan pneumonia sebelah kanan, yang gejalanya mirip radang usus buntu.

Cara Mencegah Usus Buntu

Gejala usus buntu pada awal-awal ialah pusar yang terasa nyeri, setelah itu bergerak hingga ke perut bagian kanan bawah, demam, mual juga muntah, diare, kenyang atau sembab pada bagian perut, kesulitan membuang gas sampai hilangnya nafsu makan. Untuk terhindar dari penyakit ini dan terhindar dari gejala usus buntu tentu perlu ada upaya dalam mencegahnya. Ada beberapa cara mudah yang bisa Anda lakukan untuk mencegah timbulnya gejala usus buntu, antara lain:
1.     Mengonsumsi makanan tinggi serat
Berdasarkan penelitian, menggambarkan bahwa kasus penyakit usus buntu sangat jarang terjadi pada mereka yang memiliki metode pencernaan yang lancar. Dan yang menjadi salah satu penyebab terjadinya radang pada usus buntu merupakan feses yang menumpuk, sehingga mengakibatkan penyumbatan. Sehingga dengan mengonsumsi beberapa makanan yang mempunyai kadar serat yang tinggi dapat mengurangi resiko feses mengeras, sehingga dapat melancarkan sistem pencernaan. Makanan yang mengandung banyak serat terdapat pada beraneka sayuran, seperti wortel, buncis, kacang polong, kubis, tomat, aneka buah, gandum serta sereal.
2.     Jangan membiasakan untuk buang air besar
Saat anda merasa ingin buang air besar, sebaiknya segerakan. Karena sedangkan menonjol seperti hal sepele, tetapi ini dapat menyebabkan terjadi radang pada usus buntu. Sekiranya dibendung akan mengakibatkan feses menumpuk serta mengeras, sehingga bisa terjadi penyumbatan pada usus dan pada hasilnya bisa meningkatkan resiko terjadinya radang usus buntu. Selain itu, hindari juga menahan membuang gas dari perut, karena dapat menyebabkan gangguan pada usus buntu.
3.     Banyak mengkonsumsi air putih
Air putih memang memiliki banyak sekali manfaat untuk kesehatan, kecuali untuk menyelesaikan ataupun mencegah berbagai penyakit berbahaya lainnya, dengan mengkonsumsi air putih sebanyak 8 gelas per hari bisa mencegah terjadinya radang usus buntu. Jadi, jangan sepelekan hal ini. Mulai membiasakan diri untuk mengonsumsi air putih dengan cukup tiap harinya agar terhindar dari penyakit usus buntu, juga penyakit lainnya. Terutamanya bagi anda yang mempunyai aktifitas duduk di depan layar komputer hingga berjam-jam, sebaiknya sediakan air putih di meja kerja anda.
4.     Kenali gejala usus buntu sejak awal
Metode mencegah penyakit usus buntu yang berikutnya yaitu dengan memahami tiap-tiap gejala awalnya. Kalau anda merasa gejala permulaan seperti kenyang atau perut sembab, dan sakit pada perut bagian kanan bawah, maka seketika periksakan ke dokter supaya mendapatkan penanganan lebih dini. Sehingga akan mengurangi resiko infeksi yang serius pada usus buntu. Jika usus buntu sudah meradang, anda seharusnya via operasi untuk memecahkannya.

Pengobatan Penyakit Usus Buntu

Langkah pengobatan utama untuk penyakit usus buntu adalah melalui prosedur operasi pengangkatan usus buntu, atau yang dikenal dengan istilah apendektomi. Namun sebelum dilakukan operasi, penderita biasanya diberi obat antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi, terutama pada usus buntu yang belum pecah namun sudah terbentuk abses. Sedangkan pada usus buntu yang ringan, pemberian antibiotik sebelum operasi dapat memulihkan kondisi sebagian pasien, sehingga operasi tidak perlu dilakukan.
Terdapat dua cara dalam melakukan apendektomi, yaitu secara laparoskopi atau operasi lubang kunci, dan bedah terbuka atau laparotomi. Kedua teknik bedah tersebut diawali dengan melakukan bius total pada pasien. Operasi usus buntu dengan laparoskopi dilakukan dengan membuat beberapa sayatan kecil sebesar lubang kunci pada perut, untuk memasukkan alat bedah khusus yang dilengkapi kamera untuk mengangkat usus buntu. Operasi ini lebih disukai karena proses pemulihannya lebih singkat. Operasi jenis ini juga dianjurkan pada penderita lansia atau obesitas.
Sementara operasi dengan bedah terbuka dilakukan dengan membedah perut bagian kanan bawah sepanjang 5-10 sentimeter, dan mengangkat usus buntu. Bedah terbuka ini sangat dianjurkan untuk kasus usus buntu di mana infeksi telah menyebar ke luar usus buntu, atau jika usus buntu sudah bernanah (abses).
Sementara untuk kasus usus buntu yang telah pecah dan terjadi abses, perlu dilakukan pengeluaran nanah terlebih dahulu dari abses menggunakan selang yang dimasukkan melalui sayatan pada kulit. Pelaksanaan apendektomi baru bisa dilakukan beberapa minggu kemudian setelah infeksi terkendali.
Proses pemulihan pasca apendektomi pada bedah laparoskopi lebih singkat dibanding bedah terbuka. Pasien dapat pulang dari rumah sakit beberapa hari pasca operasi. Namun jika terjadi komplikasi saat operasi, maka perawatan di rumah sakit dapat berlangsung lebih lama. Selama masa pemulihan, pasien tidak diperbolehkan mengangkat beban yang berat, dan dianjurkan untuk tidak  berolahraga dahulu selama sekitar 6 minggu. Setelah itu, pasien dapat kembali beraktivitas secara normal.

Komplikasi Penyakit Usus Buntu

Penyakit usus buntu yang tidak diobati berisiko menimbulkan komplikasi yang membahayakan. Komplikasi tersebut antara lain:
Abses atau terbentuknya kantong berisi nanah. Komplikasi ini muncul sebagai usaha alami tubuh untuk mengatasi infeksi pada usus buntu. Penanganannya dilakukan dengan penyedotan nanah dari abses atau dengan antibiotik. Jika ditemukan dalam operasi, abses dan bagian di sekitarnya akan dibersihkan dengan hati-hati dan diberi antibiotik.
Peritonitis. Peritonitis adalah infeksi pada lapisan dalam perut atau peritoneum. Peritonitis terjadi saat usus buntu pecah dan infeksi menyebar hingga ke seluruh rongga perut. Penanganan kasus ini dilakukan dengan pemberian antibiotik dan tindakan bedah terbuka secepatnya, untuk mengangkat usus buntu dan membersihkan rongga perut. Peritonitis ditandai dengan nyeri seluruh perut yang hebat dan terus menerus, demam, serta detak jantung yang cepat.
Sadari dari awal dan Lakukan Penanganan  Tepat Penyakit Usus Buntu
Penyakit usus buntu haruslah ditangani dengan diagnosa yang tepat dan pengobatan yang baik. Kenali gejala atau tanda yang ditimbulkan dari penyakit usus buntu ini. Semakin cepat penanganannya, maka akan semakin baik pula proses penyembuhannya. Sangat penting untuk mempertimbangkan pula kondisi pasca operasi, agar bisa kembali pulih dengan cepat.